Langsung ke konten utama

Blog sayah

 Iyah bang ini blog sayah, emang kenafah?

Btw, lampu lampu apa yang petualang?















Jawabannya bohlam.

Bohlam si bohlam si bocah petualang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERADAKA

Foto Saya, plis jangan dihujat haha  Assalamualaikum, halo semuanya. SERADAKA merupakan singkatan dari "Sebuah Rasa Dalam Kata". Ini adalah curahan hati saya yang berupa puisi buatan saya Hanif Syatir Arby dari SMKN 1 CIKARANG UTARA. Mohon kritik dan sarannya, dan Selamat menikmati. And lastly, you guys can support me by clicking this link:  Support me here #1)   MENUNGGU Menunggu, Aku antipati terhadap itu, Menunggu memang diam,  Namun membuat ku lelah, Lelah hati ini menunggu, Menunggu buruk bagiku, Karena aku tidak tahu, Apa yang harus kulakukan!! Apa yang harus kulakukan ketika menunggu?! Ku hanya bisa diam dan berharap, Segera ku terbebas dari menunggu. #2) BAHAGIA Bahagia.. Bahagia bertemu denganmu Bahagia mengobrol denganmu Bahagia ketika kau dekat denganku Tertawa bersamamu Membuatku sangat bahagia Aku pun bertanya-tanya  Ini kah rasanya? Seperti ini kah nikmatnya? Aku bersyukur bisa terus bahagia  #3) SUNGGUH Sesungguhnya tidak ada kata Sesung...

The legend of Tangkuban Parahu

Once, there was a kingdom in Priangan Land. Lived a happy family. They were a father in form of dog,his name is Tumang, a mother which was called is Dayang Sumbi, and a child which was called Sangkuriang. One day, Dayang Sumbi asked her son to go hunting with his lovely dog, Tumang. After hunting all day, Sangkuriang began desperate and worried because he hunted no deer. Then he thought to shot his own dog. Then he took the dog liver and carried home. Soon Dayang Sumbi found out that it was not deer lever but Tumang’s, his own dog. So, She was very angry and hit Sangkuriang’s head. In that incident, Sangkuriang got wounded and scar then cast away from their home. Years go by, Sangkuriang had travel many places and finally arrived at a village. He met a beautiful woman and felt in love with her. When they were discussing their wedding plans, The woman looked at the wound in Sangkuriang’s head. It matched to her son’s wound who had left severall years earlier. Soon she realized that she ...